Kenali Maria Montessori (3)

Memberi  ruang pada Anak untuk Bertanggung Jawab

Montessori yakin bahwa semakin kita terlalu mengurusi anak-anak, maka pekerjaan kita akan semakin sulit. Anak-anak memiliki minat penuh gairah untuk belajar secara nyata. Mereka suka menonton juru masak, penjaga, dan truk sampah yang sedang bekerja. Mereka selalu ingin “membantu.” Montessori percaya bahwa anak-anak harus mampu melakukan segala sesuatu yang mereka mampu. Dia percaya ini adalah tanggung jawab guru untuk meningkatkan kompetensi setiap anak jika memungkinkan.

 

Observasi Montessori membimbingnya untuk percaya bahwa anak-anak mampu berkonsentrasi ketika mereka dikelilingi oleh banyak hal yang menarik untuk dilakukan dan diberi waktu dan kebebasan untuk melakukannya.

 

Guru di tempat penitipan anak sering merasa frustrasi karena mereka merasa tidak mampu melakukan pembersihan dan pengorganisasian di kamar mereka seperti yang diperlukan. Mereka merasa frustrasi dan kewalahan ketika Legos, kubus Unifix, dan blok-bola pola semuanya berhamburan dan keluar dari tempatnya. Banyak guru merencanakan kegiatan pemilahan, tidak pernah terpikir untuk memberikan anak-anak tugas pemilahan bahan-bahan ke dalam tempatnya yang layak di dalam kelas. Guru tahu bahwa permainan air menenangkan bagi anak-anak, namun mereka khawatir tentang waktu yang diperlukan untuk membersihkan karena mereka terlalu sibuk membuat perencanaan untuk meja air! Jika anak-anak diberi air hangat bersabun dan sikat, mereka bisa membersihkan meja dan kursi sendiri. Montessori menyatakan bahwa kompetensi yang didapat oleh anak-anak dari keterlibatan dalam kehidupan nyata seperti itu akan sangat bermanfaat guna meningkatkan harga diri anak dibandingkan dengan cara buatan atau kegiatan yang terlalu direncanakan.

Menjadwalkan Waktu Bebas yang Banyak

Pengamatan Montessori membimbingnya untuk percaya bahwa anak-anak mampu berkonsentrasi ketika mereka dikelilingi oleh banyak hal yang menarik untuk dilakukan dan diberi waktu dan kebebasan untuk melakukannya. Dia berpikir bahwa ketika guru membiarkan anak-anak untuk memilih apa yang akan mereka lakukan dan bagaimana dan kapan mereka akan melakukannya, para guru memiliki lebih banyak waktu untuk mengamati dan membantu anak-anak secara individual. Saat ini di beberapa sekolah inklusi, khususnya program anak usia dini, anak-anak sering diminta untuk membuat lingkaran dan bercerita tentang keterlibatannya dalam proyek mereka sendiri. Guru mengatakan mereka punya begitu banyak untuk diajarkan kepada anak-anak lain dalam waktu singkat, sehingga guru tidak meninggalkan anak-anak untuk kepentingan mereka sendiri sebanyak yang mereka inginkan.

Beberapa guru di sekolah inklusi yang kami kunjungi merasa bahwa mereka tidak dapat “mengajar” kecuali mereka telah merencanakan semua kegiatan. Mereka menggunakan buku-buku rencana dengan blok waktu yang disediakan untuk menulis, cerita, dan musik, manipulatif, permainan matematika, dan makanan ringan. Banyak guru yang takut untuk mendokumentasikan buku rencana pembelajaran (BRP). Padahal dengan pendokumentasian RP yang baik akan menghindarkan guru dari “salah menjadwal”, seperti memanggil masuk anak-anak ke dalam kelas di hari yang indah dan cerah karena saat itu adalah jadwalnya “gerakan dengan syal sutra”.

Di sisi lain, guru penganut Montessori juga dilatih untuk ” sedikit mengajar dan banyak mengamati.” Guru, tentu saja, harus merencanakan kegiatan-kegiatan dan bahan-bahan untuk mendukung kepentingan anak-anak, seperti yang disarankan oleh ide-ide Dewey dalam Bab 1. Namun, penting untuk mengenali perbedaan antara jenis kegiatan tanpa tujuan yang ditentang oleh Dewey, dan kegiatan yang bertujuan dan terarah. Ketika anak-anak terlibat dalam pekerjaan dan belajar yang serius, mereka tidak mungkin mengganggu. Teori Montessori tentang anak-anak memberitahu para guru untuk tidak menarik anak-anak dari proyek-proyek yang menarik bagi mereka kecuali jika benar-benar diperlukan.

Montessori percaya bahwa satu-satunya cara untuk mengetahui pengaturan jadwal harian dan mengelola perilaku adalah melalui observasi. Ini juga mengapa porsi besar dari waktu yang tidak terganggu adalah sangat penting bagi guru dan anak-anak di kelas anak usia dini. Contoh perbedaan yang dihasilkan pengamatan dapat dilihat dengan melihat dua guru yang bekerja di program taman kanak-kanak yang sama, tetapi di kelas terpisah.

Pak Imam percaya bahwa konsisten menjaga jadwal adalah penting bagi anak-anak. Setiap akhir pekan, ia dengan hati-hati menyusun rencana untuk minggu yang akan datang. Dia mencoba untuk menyeimbangkan waktu luar ruangan dan dalam ruangan, aktif dengan kegiatan yang tenang, dan kegiatan pilihan-anak dengan arahan-guru. Dia terus memperhatikan kebutuhan individu. Setelah rencana dibuat, dia ragu-ragu untuk mengubahnya. Dia percaya anak-anak menjadi tenang oleh rutinitas konsisten.

Montessori tidak percaya ada anak-anak yang tidak bisa belajar. Dia yakin bahwa jika anak-anak tidak belajar, orang dewasa tidak cukup hati-hati mendengarkan atau tidak cukup dekat memperhatikan.

 

Di ujung lorong, Pak Budi bekerja dengan kelompok usia yang sama. Dia dan Pak Imam sepaham secara filosofis tentang apa yang penting bagi anak-anak. Pak Budi mengakui bahwa dia tidak menghabiskan banyak waktu untuk merencanakan seperti yang Pak Imam lakukan. Dia lebih banyak bergantung pada pengamatan yang konstan dan berkelanjutan terhadap anak-anak. Dia mengaku dia tidak tahu bagaimana langkah hari-hari selanjutnya tanpa hati-hati memperhatikan tanda-tanda ketertarikan, kelelahan, dan kebutuhan anak-anak.

Mari kita lihat bagaimana kedua guru itu mengelola salah satu bagian dari hari mereka: waktu kegiatan luar ruangan. Pak Imam seringkali berjuang dengan hal itu. Dia dan asistennya, Bu Desi, menemukan bahwa lima atau enam dari delapan belas kelas mereka selalu terlalu dingin atau terlalu panas atau tidak bahagia menjalani aktivitas luar ruangan. Kemampuan kedua guru untuk fokus pada anak-anak yang disegarkan dengan menjalani aktivitas luar ruangan berkurang karena menghabiskan energi menjaga lima atau enam anak agar tidak terjadi pemberontakan. Begitu mereka berada di dalam ruangan lagi, energi Pak Imam dan Bu Desi dipakai dengan membawa masuk anak-anak yang sebetulnya memerlukan waktu lebih lama bermain di luar.

Pak Budi dan asistennya, Bu Eva, menemukan cara yang lebih mudah. Bila memungkinkan, mereka menawarkan pilihan kepada anak-anak tentang berapa lama mereka menghabiskan waktu di luar ruangan. Ketika Pak Budi dan Bu Eva mengamati bahwa lima atau enam anak-anak mulai lelah, salah satu dari mereka mengambil kelompok kecil di dalam ruangan. Dengan hati-hati mereka melakukan observasi dan fleksibilitas memungkinkan penjadwalan dan manajemen perilaku berjalan lebih lancar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: