Bicara tentang John Dewey (2)

Teori Dewey

John Dewey menulis begitu banyak buku filsafat dan praktek pendidikan sehingga sebuah tulisan pengantar saja tidak cukup untuk menjelaskan kontribusinya di bidang kita. Sebagai seorang pendidik progresif ia memiliki kesamaan dengan Vygotsky, Montessori, dan Piaget mengenai ide-ide sentral gerakan itu: pendidikan harus berpusat pada anak; pendidikan harus aktif dan interaktif; dan pendidikan harus melibatkan dunia sosial anak dan masyarakat. Pada tahun 1897 Dewey menerbitkan filsafat pendidikan dalam dokumen yang disebut My Pedagogic Creed (Washington, DC: The Progressive Education Association, 1897). Inilah yang dia nyatakan tentang pendidikan:

“Pendidikan yang baik datang dari stimulasi kekuatan anak melalui tuntutan situasi sosial tempat dia menemukan dirinya sendiri.” Dewey percaya bahwa anak-anak belajar paling baik ketika mereka berinteraksi dengan orang lain, bekerja baik secara mandiri maupun secara kooperatif dengan teman-teman sebaya dan orang dewasa.
“Anak memiliki naluri dan kekuatannya sendiri yang merupakan bahan dan titik awal semua pendidikan.” Menurut Dewey, kepentingan anak-anak membentuk dasar bagi perencanaan kurikulum. Dia percaya bahwa kepentingan dan latar belakang dari setiap anak dan kelompok harus dipertimbangkan ketika guru merencanakan pengalaman belajar.
“Saya percaya bahwa pendidikan, oleh karena itu, adalah proses kehidupan dan bukan persiapan untuk kehidupan masa depan.” Dewey percaya bahwa pendidikan adalah bagian dari kehidupan. Dia percaya bahwa selama manusia masih hidup, mereka belajar, dan bahwa pendidikan harus membahas apa yang orang perlu tahu pada waktu itu, bukan menyiapkan mereka untuk masa depan. Dewey berpendapat bahwa kurikulum harus tumbuh dari rumah, pekerjaan, dan situasi kehidupan nyata lainnya.
“Kehidupan sekolah haruslah tumbuh secara bertahap di luar kehidupan rumah … hal ini merupakan upaya sekolah untuk memperdalam dan memperluas kepekaan anak terhadap norma sosial yang sebelumnya hanya terikat oleh nilai-nilai kehidupan rumah.” Dewey berpikir guru harus peka terhadap nilai-nilai dan kebutuhan keluarga. Nilai-nilai dan budaya keluarga serta masyarakat harus tercermin di dalamnya dan diperdalam oleh apa yang terjadi di sekolah.
“Saya percaya, akhirnya, bahwa guru terlibat tidak hanya dalam pembelajaran individu, tetapi dalam pembentukan kehidupan sosial yang layak.” Dewey percaya bahwa guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga bagaimana hidup dalam masyarakat. Selain itu, ia berpikir bahwa guru tidak hanya mengajar setiap anak, tetapi juga membentuk masyarakat.

 Potongan terakhir keyakinan pedagogik Dewey itulah yang menjadi batu loncatan untuk beberapa idenya yang paling provokatif. Dia percaya bahwa guru perlu memiliki kepercayaan diri dalam keterampilan dan kemampuan mereka. Dia percaya bahwa guru perlu mempercayai pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki dan menggunakan keduanya, menyediakan kegiatan-kegiatan yang tepat untuk memupuk rasa ingin tahu dan pengaturan pembelajaran pada diri anak-anak yang mereka ajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: