Bicara tentang John Dewey (1)

john dewey

Masalah yang mendasar bukanlah soal pendidikan lama versus pendidikan baru, bukan pula menyangkut pendidikan progresif melawan pendidikan tradisional, tetapi pertanyaan tentang apa, apapun itu, yang layak dilakukan demi Pendidikan.
(John Dewey)

Biografi

Lahir di Burlington, Vermont, pada tahun 1859, John Dewey benar-benar seorang pendidik Amerika yang paling berpengaruh terhadap pemikiran kita tentang pendidikan di negeri ini. Keluarganya telah lama bertani di Vermont selama tiga generasi. Dewey mendaftar dan belajar filsafat di Universitas Vermont. Pada tahun 1884 ia menerima gelar Ph.D. dari Universitas Johns Hopkins, yang membawanya pada posisi sebagai pengajar di Universitas Michigan. Ketika menjabat sebagai profesor filsafat di sana, ia berteman dengan salah seorang mahasiswanya, Alice Chipman. Mereka kemudian menikah pada tahun 1886, dan pengaruh besar istrinyalah yang mendorong Dewey untuk mengkaji masalah pendidikan. Chipman tertarik pada masalah sosial dan hubungannya dengan pendidikan. Minatnya itu menular, dan tak lama kemudian ia dan Dewey bekerja sama mencari cara terbaik untuk mendukung pendidikan anak-anak di Amerika.

Tahun 1894 mereka pindah ke Universitas Chicago, di sana Deweymengambil posisi mengajar filsafat. Ia memang menginginkan posisi itu karena di situ ia dapat memadukan ajaran filsafat baik dengan psikologi maupun dengan teori pendidikan. Dalam dua tahun ia telah mendirikan sebuah sekolah laboratorium (percobaan) terkenal yang menarik perhatian seluruh dunia. Labschool Dewey (Dewey’s Laboratory School) didirikan di Universitas Chicago sebagai pusat pemikiran pendidikan yang progresif, dengan pergerakan ke arah yang lebih demokratis dan pendidikan yang berpusat pada anak. Pendidikan progresif merupakan reaksi terhadap kekakuan pendidikan tradisional dengan gaya formal selama abad kesembilan belas. Hal tersebut dianggap jenius oleh banyak orang sekaligus dikritik sebagai sesuatu yang terlalu radikal oleh orang lain. Sekalipun peran Dewey di labschool tidak berlangsung lama, namun karya penelitian ilmiah dan teori-teorinya menjadi sumbangan luar biasa bagi dunia pendidikan serta terus menginspirasi praktik pendidikan terbaik kita saat ini.

Pada tahun 1904, akibat berselisih paham dengan pimpinan universitas mengenai anggaran pendidikan, Dewey mengundurkan diri dari posisinya di Universitas Chicago. Ia lalu mendapat posisi di Universitas Columbia di New York City, di sana ia terus mengajar dan menulis selama empat dekade. Dewey telah memberikan sumbangan sejumlah karya yang berguna bagi landasan pengetahuan kita mengenai teori dan psikologi pendidikan. Sebagian besar karyanya relevan dengan perjuangan para pendidik Amerika saat ini yang hampir sama seperti setengah abad yang lalu. Tulisannya mencakup beragam topik yang relevan dengan kegiatan mengajar. Dewey terus menulis dan merevisi naskah hasil penelitiannya hingga ia meninggal pada tahun 1952 di usia sembilan puluh tiga tahun.

Ketika sekarang kita bicara mengenai pengaturan pembelajaran, tujuan kurikulum, membentuk pengalaman melalui lingkungan yang direncanakan dengan baik, serta kedudukan aneka teori dan praktis dalam pengajaran,maka kita sedang membahas isu-isu yang menarik perhatian Dewey dan yang telah ia tulis serta bicarakan.

Pada tahun 1899, John Dewey memberikan ceramah kepada orang tua siswa di sekolahnya. Orangtua khawatir akan perubahan zaman. Di penghujung abad industri, para orangtua era seratus tahun yang lalu itu sudah cukup tua untuk mengingat “zaman agraris” di Amerika. Mereka ingat ketika anak-anak dididik di rumah dengan menyaksikan orangtua mereka melakukan pekerjaan yang bermakna. Mereka berpikir generasi baru tidak memiliki karakter dan nilai-nilai. Dewey setuju dengan para orangtua bahwa rumah tidak lagi mendidik anak dengan cara seperti yang terjadi di masa lalu, tetapi ia memberi mereka nasihat yang baik. “Kita tidak bisa mengabaikan faktor-faktor disiplin dan pembangunan karakter yang terlibat … tapi tidak ada gunanya meratapi kepergian masa lalu yang indah dengan anak-anak yang penuh kesopanan, penghormatan, dan ketaatan mutlak, jika kita berharap hanya dengan meratapi desakan untuk membawa mereka kembali “(The School and Society, Chicago: University of Chicago Press, 1899). Apa yang Dewey coba sampaikan untuk membuat para orangtua itu mengerti adalah bahwa perubahan membawa masalah baru sekaligus kesempatan baru. Dia mendorong para orangtua untuk memikirkan cara-cara baru yang dapat mereka temukan untuk membantu anak-anak belajar menjadi orang yang bertanggung jawab secara sosial, tanpa berusaha untuk bergantung pada waktu yang telah berlalu.

Pada pergantian abad berikutnya, para guru masih berjuang dengan isu-isu yang sama. Dalam karyanya yang terbit tahun 1997, Dewey’s Laboratory School: Lessons for Today, Laurel Tanner menunjukkan bahwa satu abad yang lalu Dewey menanyakan pertanyaan yang kita sendiri masih mencari jawabannya pada abad kedua puluh satu: Bagaimana kita memperkenalkan anak-anak pada materi pokok dengan cara terbaik? Haruskah kita memiliki kelas beragam usia? Bagaimana kita bisa merencanakan kurikulum dengan baik? Bagaimana keberadaan pengawas dapat mendukung guru di kelas? Bagaimana seharusnya keterampilan berpikir diajarkan? Jawaban signifikan untuk pertanyaan-pertanyaan serupa tentang mengajar ini dapat ditemukan dalam banyak karya-karya Dewey. Karya Dewey banyak menggema dalam tulisan para teoretisi pendidikan kontemporer. Ketika sekarang kita bicara mengenai pengaturan pembelajaran, tujuan kurikulum, membentuk pengalaman melalui lingkungan yang direncanakan dengan baik, serta kedudukan aneka teori dan praktis dalam pengajaran, maka kita sedang membahas isu-isu yang menarik perhatian Dewey dan yang telah ia tulis serta bicarakan.

Dewey adalah sosok yang paling sering diasosiasikan dengan gerakan pendidikan progresif di Amerika. Ia memainkan peran sentral dalam pembangunan di Amerika Serikat. Di Eropa, Maria Montessori dan Jean Piaget juga menyebarkan pesan yang sama. Kedua teoretisi pionir ini sepaham bahwa anak-anak belajar dengan cara “melakukan” dan bahwa pendidikan harus melibatkan materi kehidupan dan pengalaman nyata, serta harus mendorong eksperimen dan berpikir independen. Ide-ide ini pada masa Dewey dianggap sebagai sesuatu yang revolusioner, meski sekarang sudah dianggap lazim.

1 Komentar (+add yours?)

  1. herube
    Jan 05, 2010 @ 13:58:57

    terima kasih. artikelnya sangat bermanfaat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: