Teori itu penting!

Membesarkan anak yang sehat adalah pekerjaan yang sangat berat dan menyita waktu. Tidak semua yang dibutuhkan anak dapat dibeli dengan uang. Anak-anak butuh waktu, tempat/ruang, perhatian, kasih sayang, bimbingan dan komunikasi. Mereka membutuhkan tempat bernaung yang aman, dimana mereka dapat belajar cara untuk bertahan hidup (Mary Pipher).

Tidak terbayangkan sebelumnya oleh nenek moyang kita bagaimana susahnya membesarkan anak di zaman sekarang kenakalan remaja bertambah parah. Dahulu anak remaja dan anak-anak saling meedak atau bermusuhan hanya saat main “bancakan” (baca: permainan tradisional). Sekarang remaja dan anak-anak, kalau tidak tawuran antar sekolah, berkelahi dengan teman sampai bonyok, ya diam (“ngerem maneh”) di rumah sambil main Play Station seharian dan “ngemil” hingga terkena obesitas. Ada apa dengan tumbuh kembang mereka? Begitu banyak teori membahas masalah ini. Beberapa waktu lalu Jerome Kagan dari Universitas Harvard mengemukakan dua faktor penyebab masalah tumbuh kembang anak, yakni faktor keturunan dan lingkungan. Para psikolog juga melihat masyarakat dan budaya turut meracuni anak-anak kita (Kagan: 2003).

Saat ini negara kita telah berubah menjadi negeri yang penuh dengan praktik kekerasan. Banyak dari kita merasa tidak aman di lingkungannya. Tingkat kejahatan menanjak tajam. Pada tahun 2005 saja, diprediksikan kejahatan yang terjadi sekitar 209.673 kasus, sedangkan tahun 2004 196.931 kasus dengan pelaku diantaranya masih di bawah umur (Tempo:2005).

Media masa dan konsumerisme juga mempengaruhi pola pikir anak-anak kita. Sejak 40 tahun yang lalu, telah dilakukan lebih dari ribuan penelitian tentang pengaruh media dan film terhadap kekerasan pada anak (Nakita:2003). Hasilnya dapat disimpulkan: kekerasan yang dicontohkan pada televisi mengarahkan praktik kekerasan di dunia nyata kepada penonton (dalam hal ini anak).

Kehidupan berkeluarga dan bertetangga juga berubah secara dramatis pada 15 tahun terakhir. Kebanyakan wacana mengarah pada sisi negatif. Masyarakat khawatir dengan keluarganya. Banyak LSM mengupayakan slogan-slogan untuk mengembalikan nilai kekeluargaan. Bangsa ini merindukan suasana keluarga “tradisional” yang bahagia, rukun dan bersahaja; sekalipun di setiap zaman ada ancaman kemiskinan, stres, kematian, penyakit-penyakit dan perdebatan di dalam keluarga. Namun saat ini, KDRT, KD Sekolah dan kerusakan moral menjadi momok luar biasa. Nostalgia keluarga tradisional rupanya tidak menjadi solusi. Tantangan bagi kita untuk mencari solusi tepat dan kreatif untuk mengatasi penyakit sosial jaman yang semakin berkembang/maju.

Kantor-kantor dan institusi-institusi pendidikan juga gagal beradaptasi dengan perubahan. Kebijakan-kebijakan lembaga banyak tidak sesuai dengan perubahan sosial yang membuat anak-anak tertekan, seperti perceraian, kurangnya waktu keluarga dan sebagainya. Lantas apa hubungannya dengan Piaget dan Montessori? Banyak guru dan peserta diklat yang sempat saya temui “curhat” tentang masalah perilaku anak-anak atau peserta didik mereka yang makin sulit ditangani. Sebagian dari mereka menyalahkan orang tua atau sistem di sekolah. Saking frustasinya, seorang guru berkelakar, “kalau tidak bisa mendidik anak, ngapain bikin anak?”. Nah, saat kita – sebagai pendidik- putus asa untuk memperbaiki keadaan, kadang kita tidak sadar mencari-cari kambing hitam dan orang tua adalah sasaran yang sangat empuk. Di lain pihak, orang tua juga terlalu berharap banyak kepada pihak sekolah hingga sempat terucap dari salah seorang responden, “ngapain bayar sekolah mahal-mahal kalau anak saya gak jadi bener juga?!”.

Di sinilah mengapa Piaget dan kawan-kawan diperlukan, sekalipun banyak guru yang berkata bahwa teori-teori yang mereka pelajari di bangku kuliah itu sulit diterapkan, bahkan sudah tidak mereka ingat lagi. Teori-teori mereka setidaknya dapat membantu menyelesaikan masalah sehari-hari kita. Mudah-mudahan tulisan di blog ini dapat menyederhanakan pendapat para ahli, sehingga memudahkan pembaca, khususnya guru, orang tua atau mahasiswa PGTK) untuk memanfaatkannya untuk kerangka ilmiah penelitian tindakan kelas (PTK), serta menerapkannya di dalam kelas dan rumah.

Mengawinkan Teori dengan Praktik

Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan beberapa guru yang sempat curhat soal diklat adalah kerumitan teori. Salah seorang dari mereka bahkan hampir “menyerah”, ketika ia dipusingkan dengan modul tentang PTK yang ia baca. Ia juga berpikir untuk tidak tertarik dengan sertifikasi guru sebab PTK nampak terlalu teoritis serta terlalu njelimet buat seorang guru TK.

Sering kali beberapa guru juga dihantui stigma-stigma dari warga sekolah lainnya. Sebagai contoh salah seorang kepala sekolah mereka menegaskan bahwa teori tidak memecahkan masalah di dalam kelas. Bagi beberapa warga sekolah, yang terpenting adalah jika ada anak yang berkelahi, guru dapat melerainya. Seolah-olah yang dibutuhkan oleh sekolah hanya orang yang bisa enjoy dengan anak, itu saja! Bahkan tidak sedikit pula pemilik yayasan yang lebih memilih pengajar tanpa latar belakang kependidikan, sebab disinyalir mereka menganggap lulusan kependidikan cenderung lebih tahu teori ketimbang praktik di lapangan.

Tentu saja saya tidak setuju dengan ucapan dan sikap tersebut, hanya nampaknya kebanyakan masyarakat pendidikan dan orang tua belum berhasil memanfaatkan teori-teori tumbuh-kembang anak sebagai alat bantu yang efektif dalam menangani atau membesarkan anak. Dengan demikian diperlukan pendekatan sederhana dalam memperkenalkan kembali teori dan praktiknya kepada masyarakat. Jika kepala sekolah dan guru dapat memahami teori ini dengan mudah, pasti hari-hari di sekolah akan lebih lancar, pekerjaan semakin dipermudah. Selain itu, program sekolah menjadi tepat guna dan mereka akan lebih menghragai ilmu pengetahuan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: